.: Artikel :.
 

 
GEOLOGI WADUK CACABAN
KABUPATEN TEGAL PROVINSI JAWA TENGAH


oleh :

Ir. Dirmawan.
Geologist, Komunitas Sumber Daya Air Jawa Tengah
     
 
 
 
   
UMUM 
 
Dalam pembangunan waduk, pemahaman dan pengetahuan tentang geologi pada rencana lokasi dan sekitar waduk sangat penting bagi perencana waduk. Tanpa data geologi yang akurat dan lengkap, perencanaan waduk tidak akan sempurna dan dapat beresiko sangat tinggi misalnya, terjadinya kebocoran waduk, kurang tepatnya lokasi spillway, dan bahkan gagalnya bangunan waduk itu sendiri. Banyak pengalaman dalam pembangunan waduk di Indonesia yang merepotkan para pelaksana pembangunan karena adanya kekurang cermatan dalam penyelidikan geologi dan penyediaan data geologi, sehingga terjadi kebocoran pada saat pengisian awal waduk.
 
Waduk Cacaban di Kabupaten Tegal Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu waduk di Indonesia yang dibangun oleh “putra Indonesia” dengan volume rencana lebih besar dari 90.000.000 m3 dengan tujuan utamanya adalah penyediaan air irigasi di sekitar waduk. Pemanfaatan selanjutnya memang tidak hanya untuk irigasi namun mempunyai banyak manfaat (multi purposes) diantaranya adalah untuk perikanan, pariwisata, dan irigasi.
 
Waduk yang dibangun mulai tahun 1953 dan selesai tahun 1958 tersebut kondisinya sudah memprihatinkan khususnya dari sisi sedimentasi di dalam waduk, semula 90.000.000 m3 pada saai ini tinggal 45.000.000 m3. Sudah beberapa kali dilakukan perbaikan pada bangunan bendungan, spillway, terowongan (tunnels) termasuk instrumentasi waduk agar umur ekonomis waduk dapat dipertahankan dan bahkan diperpanjang. Agar pemeliharaan ke depan dapat lebih terarah, Komunitas Sumber Daya Air Jawa Tengah ingin menyajikan tulisan geologi lokasi dan sekitar Waduk Cacaban pada Bulletin Dewan Sumber Daya Air Provinsi Jawa Tengah Edisi ke Dua tahun 2010. Semoga bermanfaat.
 
LITOLOGI
Susunan litologi disekitar Waduk Cacaban didominasi batuan hasil gunung api laharik maupun sedimen klastik dengan perincian sebagai berikut :
 
 
 
Gambar 1 : Peta Geologi Waduk Cacaban dan sekitarnya
 
     
Endapan Lahar G. Slamet (Qls) :
Lahar dengan bongkahan batuan gunung api, bersusunan andesit-basal, bergaris tengah 10-50 cm, dihasilkan oleh G. Slamet Tua. Sebarannya secara umum meliputi daerah datar. Pada daerah Waduk Cacaban penyebarannya menempati bagian barat - barat laut Waduk, kondisi di lapangan umumnya telah mengalami pelapukan lanjut.
 
Batuan Gunung Api Slamet Tak-Terurai (Qvs) :
Breksi Gunungapi, lava dan tuf, sebarannya membentuk dataran dan perbukitan, pada daerah sekitar Waduk Cacaban terdapat pada elevasi yang lebih tinggi, di lereng utara G Slamet, terletak sebelah tenggara waduk. Batuan ini membentuk morfologi lereng gunung yang kasar.
 
Formasi Tapak (Tpt) :
Batupasir berbutir kasar berwarna kehijauan dan konglomerat, setempat breksi andesit. Bagian atas terdiri dari batu pasir gampingan dan napal berwarna hijau yang mengandung kepingan moluska. Tebal sekitar 500 m. Penyebaran di utara Waduk Cacaban.
 
Formasi Halang (Tmph) :
Batupasir andesit, konglomerat tufan dan napal, bersisipan batupasir. Di atas bidang perlapisan batupasir terdapat bekas-bekas cacing. Foraminifera kecil menunjukkan umur Miosen Akhir, di lembar sebelahnya hingga Pliosen. Tebal sekitar 800 m.
Waduk Cacaban sebagian terletak pada formasi ini dan sebagian terletak pada Formasi Rambatan .
Formasi ini mengalami perlipatan yang intensif.
 
Formasi Rambatan (Tmr) :
Serpih, napal dan batupasir gampingan. Napal berselang seling dengan batupasir gampingan berwarna kelabu muda. Banyak dijumpai lapisan tipis kalsit yang tegak lurus bidang perlapisan. Banyak mengandung foraminifera kecil. Tebal sekitar 300 m. Sebagian besar letak Waduk Cacaban dan “Cathment Area” pada Formasi Rambatan yang mengandung serpih yang mudah tererosi karena sifatnya yang mudah pecah jika terkena cuaca yang berubah atau air dan panas matahari. Kondisi ini mengakibatkan Waduk Cacaban cepat mengalami pendangkalan.
 
STRUKTUR GEOLOGI
Disekitar Waduk Cacaban terdapat beberap struktur geologi, diantaranya adalah sesar geser, sesar yang diduga.
Pada bagian utara-timur laut terdapat sesar memanjang yang sekaligus menjadi batas litologi antara Formasi Tapak dan Formasi Halang maupun Formasi Rambatan. Sesar tersebut terpotong sesar yang muncul berikutnya dengan arah kurang lebih utara-selatan, beberapa diantaranya merupakan sesar geser .
 
Gambar 2 : Struktur Geologi Waduk Cacaban dan sekitarnya
 
TEKTONIK / KEGEMPAAN
Dengan menggunakan data kejadian gempa pada Waduk Penjalin, sejak tahun 1970 menunjukkan bahwa terdapat banyak episentrum berdekatan dengan bendungan Waduk Cacaban, namun kekuatannya relatif kecil.
 
   
 
Gambar 3 : Penyebaran lokasi episentrum dari tahun 1970 – 2009 dalam radius 100 Km dari Bendungan Waduk Penjalin.
 
     
Frekuensi dan magnitudo gempa sejak tahun 1970 hingga kini, menunjukkan kecenderungan menurun magnitudonya, namun bertambah dalam frekuensinya seperti disajikan dalam Gambar 4

Banjir yang terjadi pada awal tahun 2009 telah menenggenangi 15 Kabupaten/Kota dari 35 Kabupaten/Kota di Jawa Tengah, dengan berbagai sebab antara lain terkikisnya tanggul maupun luapan sungai karena tidak dapat menampung debit yang timbul akibat hujan dengan intensitas tinggi.

 
Sumber :
NEIC: Earthquake Search Results
U N I T E D S T A T E S G E O L O G I C A L S U R V E Y
E A R T H Q U A K E D A T A B A S E
FILE CREATED: Wed Dec 9 21:55:33 2009, Circle Search Earthquakes= 102; Circle Center Point Latitude: 7.328S Longitude: 109.056E; Radius: 100.000 km; Catalog Used: PDE; Date Range: 1900/01/01 to 2009/12/10; Data Selection: Historical & Preliminary Data
 
 
Gambar 4 : Frekuensi dan Magnitudo Gempa dalam radius 100 Km dari bendungan Waduk Penjalin sejak tahun 1970 - 2009
 
     
Sedimentasi
Interpretasi sedimen dalam waduk melalui citra Google earth pencitraan tanggal 16 Oktober 2004, menunjukkan bahwa sebagian waduk terutama pada muara sungai-sungai yang masuk kedalam waduk, sudah mengalami pendangkalan akibat sedimentasi yang diduga berasal dari hasil erosi dari “cathment area” yang umumnya didominasi batuan sedimen klastik serpih yang mudah hancur terpengaruh cuaca,
Batuan serpih yang terlindung oleh vegetasi akan lebih tahan terhadap erosi, sehingga diduga kecepatan sedimentasi dipengaruhi juga oleh keberadaan tutupan vegetasi termasuk vegetasi penghambat “kecepatan runoff”, disamping faktor topografi (kelerengan) dan struktur geologi setempat.
 
Gambar 5: Sedimentasi dalam waduk Cacaban, Pencitraan 16 Oktober 2004
 
Gambar 6: Batuan serpih diatas Waduk Cacaban yang bersifat mudah tererosi
 
 
Gambar 7 : Batuan serpih yang mengalami sesar diatas Waduk cacaban, salah satu sumber sedimentasi kedalam Waduk Cacaban. Pada kondisi (rimbun dan batuan tidak subur) ini tidak semua jenis rumput dapat tumbuh
 
     
PENUTUP    
1
Letak waduk Cacaban dan catchment area-nya terletak pada Formasi Rambatan yang mengandung serpih yang mudah tererosi karena sifatnya yang mudah pecah jika terkena cuaca yang berubah atau air dan panas matahari. Kondisi ini mengakibatkan Waduk Cacaban cepat mengalami pendangkalan.
 
     
2
Agar sedimentasi dapat dikurangi maka konservasi DAS Waduk Cacaban harus segera ditangani secara bersama-sama oleh para pihak terkait termasuk masyarakat.
 
     
3
Kerjasama antara BBWS Pemali Juana, Dinas PSDA Provinsi Jawa Tengah, dan Pemerintah Kabupaten Tegal dalam pengelolaan waduk dan konservasi DAS Waduk Cacaban sebaiknya segera dilakukan.
 
     

 

 

 


 
Sampaikan saran dan masukan Anda ke :
psda@jatengprov.go.id 
atau dispsda@yahoo.com